Rabu, 27 September 2017

Fakta dan Mitos Unik di Gunung Agung

Gunung Agung, Bali di ambang letusan. Baru-baru ini Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menaikkan status Gunung Agung dari Siaga menjadi level IV atau ‘Awas’. Gunung itu punya beberapa catatan sejarah letusan yang tak main-main dampaknya.
Namun, tak hanya catatan letusan saja yang membuat Gunung Agung benar-benar agung bagi masyarakat Bali. Dikutip dari berbagai sumber, ada beberapa fakta dan mitos yang selama ini selimuti gunung berapi tertinggi kelima di Indonesia itu. Berikut fakta dan mitos seputar Gunung Agung:
Fakta:
1. Letusan Gunung Agung pada 1963 setelah tertidur selama 120 tahun dianggap sebagai salah satu letusan terdahsyat di abad ke-20. Yang mengherankan, atase pers Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta menganggap gunung itu telah mati dan tidak menunjukkan tanda-tanda aktivitas setelah letusan tahun 1880. Namun, anggapan itu salah, Gunung Agung pun akhirnya meletus.
2. Saat terjadi letusan tahun 1963, Pura Besakih di lereng Gunung Agung tidak mengalami kerusakan bangunan parah, bahkan hampir tampak tak tersentuh pada letusan pertama.
3. Bukannya mengungsi, saat masa-masa letusan terjadi tahun 1963, kurang lebih sepuluh ribu orang menghadiri upacara Eka Dasa Rudra atas izin Presiden Soekarno. Meski membahayakan nyawa, Eka Dasa Rudra digelar dengan harapan keseimbangan alam kembali terjaga.
Mitos:
1. Dalam kepercayaan masyarakat tertentu di Bali, Gunung Agung adalah sejenis replika Gunung Semeru di Jawa Timur. Gunung Agung dalam cerita rakyat adalah Gunung Semeru yang dibelah oleh Dewa Pasupati.
2. Sumber air di Gunung Agung dianggap keramat dan suci oleh masyarakat setempat. Pengambilan air baru diperbolehkan setelah sembahyang khusus dilakukan, bagi siapapun.
3. Sebagai gunung yang dikeramatkan dan disucikan, Gunung Agung dipercayai merupakan rumah besar tempat bersemayamnya Batara Mahadewa atau Hyang Tolangkir dalam kepercayaan Hindu.
4. Beberapa larangan diberlakukan bagi para pendaki. Di antaranya dilarang membawa daging sapi, dilarang membawa makanan dengan jumlah ganjil, dilarang menggunakan pakaian warna merah atau hijau, serta larangan-larangan yang berkenaan dengan mistis lainnya. (Ryan Virgiawan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar